Rumah itu rumah kenangan: pondasinya terbuat dari embun rindu, atapnya dari relung hati ibu.

Bila kau kursi bertaut meja, aku jendela pengintip angin.
Meski lama meski kuno, ini ruang yang jadi saksi atas rindu saya dan segala yang kita beri sebut nama ‘Keluarga’. Juga permainan lupakan-sajalah-patah-hatimu-itu yang bisa kau lupa bila parahnya-patah-hatimu kembali melanda.

“Tuan dan Nyonya Belanda mempengaruhi bangunan kami, meski kami Jawa meski kami Jogja,” bilang aku, kau dengar. 

Oh tempat singgah, masih adakah cicak malu pencium dinding yang sembunyi di balik foto paman tua di sebelah almari hitam?

O, kawan. Tahukah kau cara menyimpan baik-baik semua kenangan dengan renungan?

Share: