segenggam iman anak kita

Buku yang satu ini saya kategorikan: parenting. Sebelumnya, saya sekadar suka catatannya (notes) di fanpage Facebook-nya. Buku karya Mohammad Fauzil Adhim yang pertama kali baru saya baca dan sudah selesai ini berjudul ‘Segenggam Iman Anak Kita’. Saya hanya pinjam tiga buku sekaligus dari mahasiswa angkatan atas. Ketiga-tiganya ditulis Mohammad Fauzil Adhim dan diterbitkan oleh Pro-u Media.

Buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama ialah Menjadi Orangtua untuk Anak Kita. Yang kedua ialah Membekali Jiwa Anak. Lalu bagian ketiga ialah Menghidupkan Al-Qur’an pada Diri Anak. Yang keempat, Sekadar Cerdas Belum Mencukupi. Dan yang terakhir, Menempa Jiwa Anak, Menyempurnakan Bekal Masa Depan.

Di tiap bagian itu, kerap pembaca disuguhi tulisan-tulisan khusus yang dibingkai dengan garis luar. Penulis buku tersebut menamai tiga kolom khusus itu dengan Kiat, Renungan, dan Inspirasi.

Banyak referensi yang diacu oleh penulis. Buku-buku psikologi perkembangan dan penelitian-penelitian psikologi diceritakan untuk memupuk kebermanfaatan yang menjadi topik buku ini. Bahkan penulis menuliskan kisah (bukan hasil atau diskusi) yang tragis pada penelitiannya J. B. Watson, seorang tokoh psikologi, di bagian kedua dengan kolom berjudul ‘Albert Tak Pernah Kembali’. Albert merupakan subjek penelitian Watson. Setelah penelitian dilaksanakan, ibunya Albert membawa anaknya pergi meninggalkan kota itu dan tidak tahu ke mana yang dituju. Albert telah mendapatkan akibat dari sebab yang mengerikan.

Kelak, ia bukan saja takut pada tikus. Ia juga ngeri melihat kelinci, anjing, baju berulu, dan apa saja yang mempunyai kelembutan seperti tikus. Albert yang cerdas dan lucu itu sekarang sudah berubah menjadi sakit jiwa. … (hlm. 122)

Di setiap tulisan, penulis selalu menyuguhkan keresahan dan solusinya untuk pembaca. Dua keresahan yang saya kagumi ada di bagian keempat:

Teringatlah saya dengan pernyataan Alex Ross sebagaimana dapat kita baca pada buku Talent is Overrated karya Geoff Colvin. Ross menyatakan, “Orangtua yang ambisius dan sekarang ini sedang mempertontonkan video “Baby Mozart” kepada bayinya bisa kecewa tatkala mempelajari bahwa Mozart menjadi Mozart karena kerja keras yang luar biasa.” (hlm. 201)

Tetapi, marilah kita kembali pada pertanda, perlukan kita mengetahui IQ anak? Pentingkah orangtua memahami bakat anak? Rasanya sedih ketika saya harus menyampaikan bahwa pengetahuan tentang bakat anak hampir tidak ada manfaatnya. Menelusuri hasil-hasil riset yang diungkap oleh Andrew Robinson dalam bukunya bertajuk Sudden Genius?, kita terhenyak bahwa pemahaman tentang bakat tak banyak berperan mengantarkan anak menjadi manusia-manusia brilian. … (hlm. 202)

Adapun solusi dari dua keresahan di atas ada pada halaman selanjutnya:

Menerima secara tulus berarti ridha atas apa yang dikaruniakan kepada kita melalui anak-anak kita. Maka kita bersungguh-sungguh mengasuh mereka, menyayangi mereka, memberi dukungan tatkala mereka menghadapi kesulitan dan bukannya mengambil alih kesulitan tersebut. Semoga dengan demikian anak-anak itu kelak memiliki kesanggupan menghadapi tugas-tugas berat demi memperjuangkan agamanya. (hlm. 204)

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini. Para orangtua beserta calon orangtua sangaaat perlu untuk menelaah buku ini. Buku parenting yang sesuai dengan ajaran agama Islam akan memberikan kita koridor sejauh mana kita akan mendidik. Pun akan kita ketahui kaidah yang tidak akan diketahui hanya melalui dunia maya saja.

Setelah membaca buku ini, saya perlu melanjutkan dua buku pinjaman lainnya. Nantikan ulasan selanjutnya!


0408.2015 | 10.04 WIB

Share: